Seperti halnya sastra Indonesia, dalam khasananh sastra Jawa modern pun terdapat sejumlah genre karya fiksi. Seperti cerkak (cerita pendek), cerbung (novel dan novelet), dan geguritan (puisi). Khususnya untuk geguritan, gaya penulisannya juga mirip dengan puisi dalam sastra Indonesia. Yaitu, ditulis dengan gaya bebas. Artinya, tidak terikat lagi oleh aturan guru lagu dan guru wilangan sebagaimana dalam tempat macapat (puisi Jawa tradisional) di masa lalu. Sampai saat ini, geguritan masih terus ditulis dan diapresiasi oleh orang Jawa. Sedangkan publikasinya kebanyakan lewat media massa berbahasa Jawa. Seperti, majalah Jaka Lodhang (Yogyakarta), Penyebar Semangat (Semarang) dan Jayabaya (Surabaya). Melalui medi-media tadi para penggurit (penulis/pencipta geguritan) dapat menyosialisasikan karya-karyanya kepada masyarakat. Karena pada realitasnya, majalah berbahasa Jawa itulah yang menjadi sarana paling efektif untuk media menyalurkan ekspresi kreatif mereka. Sementara dalam skala kecil, penggurit juga dapat mempublikasikan karya-karya lewat media elektronik (radio). Namun, karena makin terbatasnya pendengar radio, maka pilihan utama penyiaran geguritan dan karya sastra berbahasa Jawa tetap pada media cetak. Bahkan belakangan, dengan makin tumbuhnya penerbit dan percetakan, banyak pula diterbitkan geguritan dalam bentuk buku, baik berupa antologi (kumpulan karya bersama) ataupun yang berisi karya tunggal dari seorang penggurit saja. Harus diakui,

geguritan lebih terbatas peminatnya disbanding cerkak (cerita pendek) maupun cerbung (cerita bersambung/novel). Sebabnya, Antara lain, karena Bahasa gegeuritan nyaris sama dengan puisi Indonesia modern. Cenderung menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak langsung, intuitif, bermakna ganda, imajinatif, banyak memakai simbol (perlambang), dan sangat ketat dalam menggunakan kata. Dengan demikian masyarakat awam jadi agak kesulitan dalam mengapresiasinya. Berbeda dengan cerkak atau cebrung yang lebih menggunakan bahasa keseharian, atau yang lazim didengar oleh masyarakat, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Dalam sejarahnya, geguritan masih terbilang “baru” jika dibandingkan dengan puisi Jawa (tradisional) seperti dalam tembang-tembang macapat. Walaupun tembang macapat termasuk puisi, tetapi bahasa yang dipergunakannya bersifat naratif dengan ungkapan yang cenderung langsung. Jika di dalam macapat, misalnya, terdapat ejambemen itu semata-mata karena tuntutan guru lagu di dalam metrum macapat. Bukan berfungsi memberikan tekanan pada setiap bagian (baris puisi) sebagaimana tradisi kepuisian Indonesia modern. Sebagia puisi Jawa modern, geguritan memiliki beberapa ciri-ciri, misalnya, meminimalkan kata0kata Jawa yang arkhais (kuna/berbahasa Kawi) sehingga kata-kata yang muncul dalam geguritan lebih komunikatif bagi generasi orang Jawa masa kini, namun untuk saat-saat tertentu beberapa kata arkhais kadangkala juga dipergunakan dalam rangka membangun suasana tertentu sesuai dengan diinginkan penciptanya. Walaupun kata-kata dalam geguritan cenderung menggunakan bahasa Jawa masa kini (kontemporer), namun nilai kontemplatifnya tetap terasa sehingga “roh kejawaanny” dapat diserap oleh para pembaca di masa kini. Khusunya bagi mereka yang masih menghayati nilai-nilai kebudayaan Jawa dalam hidup kesehariannya. Di samping itu, ciri lain yang cukup menonjol (disbanding dengan puisi Jawa tembang), geguritan sifatnya lebih personal. Yaitu, menyuarakan isi hati dari pribadi penggurit. Oleh karena itu, menjadi sangat berbeda ketika kita membaca puisi Jawa tradisional jenis tembang yang cenderung menyuarakan norma-norma kejawaan masyarakat Jawa, dengan geguritan yang lahir dan berkembang pada era kesusastraan Jawa modern. Berdasarkan penyataan itulah, geguritan kemudian disebut sebagai puisi Jawa gagrak anyar (modern). Dua geguritan Jawa berikut adalah contoh tentang beberapa hal yang diungkapkan di atas. Pertama, geguritan yang berjudul Ing Sanggar Asepi (Di Sanggar Bersepi) karya Djaimin K, dan Guru Sejati (Guru Sejati) karya Wieranta. Dua geguritan ini diambil dengan pertimbangan, semoga dapat diapresiasi sebagai karya sastra Nusantara yang masih “kental” dengan suasana kejawaan, atau hal-hal yang berkaitan dengan budaya Jawa. Djaimin K. lahir tahun 2939 dan tinggal di Yogyakarta. Ia termasuk satu penggurit yang cukup handal dalam khasanah sastra Jawa modern. Karyanya banyak dipublikasikan di berbagai majalah berbahasa Jawa. Antologi geguritan-nya yang cukup terkenal berjudul Siter Gadhing (1996), diterbitkan oleh Lembaga Studi Jawa, Yogyakarta. Karya itu, pada tahun yang sama, mendapat hadiah sastra dari Yayasan Rancage (Bandung). Puisi Djaimin K. yang diambil dalam kesempatan ini juga berasal dari antologi Siter Gadhing. Sedangkan Wieranta adalah penggurit kelahiran 13 Juni 1958 dan tinggal di Surakarta. Di samping menulis puisi Jawa, ia juga menulis cerita pendek dengna bahasa Indonesia. Karya-karyanya sudah tersebar di berbagai media massa. Puisi Wieranta yang diapresiasi ini diambil dari antologi geguritan berjudul Paseksen (1989), dan diterbitkan oleh Balai Pustaka.

ING SANGGAR ASEPI
Djaimin K.

Manjing telenging sanggar asepi
nyingkur jawilaning angina ngalsik
nutup babahan dalaning godha
nyirep ubaling geni karep
nepsu dudu.

Ati sepen-sepi
uwal krenteg isiking ati
rep sirep
tidhem premanem
neng
ning.

Jroning ning
gembleng nyawiji
ati mumbul
del…
manjing tlatah arum
gurit putih
winengku
asih-Mu

(dari antologi Siter Gadhing, 1995)

TERJEMAHAN

DI SANGGAR BERSEPI
Djaimin K.

Berada dalam jantung sanggar bersepi
menjauh dari colekan angin semilir
menutup lubang jalan godaan
menyiram bara api kehendak
napsu jahat.

Hati sunyi senyap
lepas maksud bisikan hati
padam diam
tenang tanpa suara
sunyi
hening

Dalam hening
bersatu manunggal
hati terlontar
naik…
tinggal di tempat harum
puisi putih
digenggam
kasih-Mu.

(dari antologi Siter Gadhing, 1995)


GURU SEJATI
Wieranta

Guru sejati
amung sawiji
kinanthil ana ati
gemandhul ana lathi

Guru sejati
nora ana ngendi-ngendi
nanging ing njeron ati
mula kudu dimangerti

Guru sejati
ora bias lari
sabab ora bakal mati
jumeneng hingga sepriki

Guru sejati
tansah dipepuji
hayu-hayu rahayu
tumeka titi

(dari antologi Paseksen, 1989)

TERJEMAHAN

GURU SEJATI
Wieranta

Guru sejati
hanya satu
tertambat di hati
bergelantung di lidah

Guru sejati
tak berada di mana-mana
tapi di dalam hati
maka harus dimengerti

Guru sejati
tak dapat lepas
sebab takkan mati
berdiri hingga nanti

Guru sejati
selalu diluhurkan
selamat selamat selamat
hingga akhir.

(dari antologi Paseksen, 1989)
 

Dua buah geguritan karya penggurit dari Yogyakarta dan Surakarta itu hanya sebagian kecil dari banyak buku geguritan yang pernah erbit atau yang terus ditulis oleh para penyair Jawa. Walaupun awalnya pembaca geguritan lebih sedikit dibanding karya prosa, namun belakangan telah menunjukkan perkembangan menggembirakan. Dengan makin meningkatnya intelektualitas, kecerdasan, maupun wawasan generasi muda Jawa, minat dan apresiasi terhadap gegeuritan pun juga mengalami peningkatan. Misalnya, di kalangan budayawan, sastrawan, siswa, mahasiswa, serta guru-guru (terutama yang mengampu pelajaran bahasa dan sastra Jawa). Semoga penyajian contoh geguritan dan apresiasi singkat ini dapat memperkaya wawasan perpuisian di Indonesia. Bahwa, di samping karya sastra Indonesia modern, di berbagai daerah di seluruh Indonesia tetap bermunculan puisi-puisi dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Artinya, selain bahasa Indonesia, terdapat pula “bahasa ibu” yang juga mampu digunakan untuk menyampaikan pesan moral dan estetika dalam sastra. Karena pada hakikatnya roh yang dikandung memang selaras untuk menyampaikan karya-karya sastra yang bersumber pada nilai-nilai kearifan local yang bertebaran di Nusantara. Dengan demikian, geguritan benar-benar tak ubahnya perwujudan dari nilai-nilai kedaerahan tersebut yang terus menyusup ke relung-relung zaman menjadi bagian dari modernitas dan kehidupan yang tak terbantahkan.

 

Photo : Internet

(Sumber: Majalah Sabana edisi Juni 2013)