Kematian selama ini dianggap sebagai hal yang menakutkan dan bahkan tabu untuk dibicarakan. Namun, apa jadinya jika kematian diangkat menjadi sebuah film animasi keluarga?

Dengan “Coco”, studio animasi Pixar berusaha menepis misteri dan ketakutan yang selama ini menyelimuti kematian. Film yang disutradarai oleh Lee Unkrich dan Adrian Molina ini berlatar Dia de los Muertos atau Hari Orang Mati, yaitu hari raya tradisional Meksiko di mana para keluarga berkumpul untuk menghormati leluhur mereka yang sudah meninggal dunia dengan membangun altar, mendekorasi, dan piknik bersama di makam para leluhur.

Pada hari itu pula, diyakini bahwa batas antara dunia manusia dan alam baka telah dibuka sehingga mereka yang telah meninggal dapat berkunjung untuk menemui keluarganya di malam itu. Sebaliknya, seorang anak laki-laki bernama Miguel (disuarakan oleh Anthony Gonzalez) secara tidak sengaja menemukan dirinya di alam baka—yang ternyata tidak seseram yang selama ini kita bayangkan.

Alih-alih suram dan menakutkan, dunia orang mati digambarkan sebagai sebuah metropolitan yang sibuk dan penuh warna, dihuni oleh tengkorak-tengkorak hidup yang suka bermain musik dan berpesta. Representasi dari alam baka tersebut terinspirasi dari kota Guanajato di Meksiko, sebuah kota pertambangan perak tua di tepi bukit yang dipenuhi bangunan-bangunan penuh warna yang semarak. Dalam risetnya, tim Pixar memang melakukan kunjungan ke Meksiko untuk menangkap kemeriahaan suasana Dia de los Muertos di tempat asalnya. Tak hanya itu, mereka juga bergabung dengan keluarga-keluarga yang sedang merayakan hari raya tersebut untuk mengamati bagaimana mereka mengenang dan menghormati para leluhurnya. Beragam motif khas yang sering ditemui dalam tradisi Meksiko seperti bunga marigold dan nyala lilin juga tak luput diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang detail dan nyata khas Pixar.

Nuansa Meksiko juga hadir dalam Marigold Grand Central, sebuah stasiun besar di alam baka tempat para anggota keluarga yang sudah meninggal berangkat menuju dunia manusia untuk merayakan Dia de los Muertos. Miguel sendiri juga harus melewati stasiun tersebut dalam perjalanannya dan stasiun itu pula yang merupakan jalan keluarnya untuk kembali ke dunia manusia. Dalam mendesain Marigold Grand Central, para animator Pixar berkiblat pada sistem transportasi umum serta bangunan-bangunan tua di ibukota Meksiko, Mexico City. Pilar-pilar besi penopang stasiun itu diinspirasi oleh Palacio de Correos, bangunan bersejarah di pusat kota Mexico City yang dibangun di tahun 1907. Tak jauh dari situ terdapat pula Gran Hotel dengan langit-langit berhias jendela kaca patri yang warna-warninya juga dapat ditemui di sudut-sudut Marigold Grand Central.

Tak kalah mempesonanya dengan alam baka yang magis adalah desa Santa Cecilia tempat tinggal Miguel, yang juga dihuni oleh keluarganya—keluarga perajin sepatu yang telah menekuni bisnis tersebut secara turun temurun. Representasi budaya dan tradisi dalam “Coco” terlihat autentik dan inklusif dengan sensitivitas yang ditampilkan dengan cerdik khas Disney di masa kini, alih-alih mengeksotisasi dan mengeksploitasi tanpa berpikir lebih dalam. Dalam film ini, peran keluarga—dalam hal ini keluarga besar multigenerasi yang mendukung sekaligus menantang si tokoh utama—adalah suatu hal yang juga dapat dirasakan oleh hampir semua orang. Hal inilah yang tidak hanya digunakan untuk menjelaskan cerita, tetapi juga membangun koneksi yang tulus antara Miguel dengan audiens tanpa peduli latar belakang budaya mereka.

Tentu saja, salah satu kepuasan menonton sebuah film Pixar adalah melihat sendiri bagaimana animasi mampu membentuk dan menggambarkan sebuah dunia fantasi dengan luar biasa detail—seperti gerakan bulu-bulu monster dalam “Monsters, Inc.”, ombak dan cipratan air dalam “Finding Nemo,” hingga kilatan besi dalam “Cars.” Teknik animasi yang muncul dalam “Coco” juga tak kalah mengagumkan meskipun lebih subtil. Tekstur sepatu kulit dan besi terlihat sangat nyata, begitu pula dengan kelopak bunga yang memenuhi kota. Terdapat pula momen-momen epik seperti sebuah adegan musikal yang terinspirasi oleh pelukis Frida Kahlo.

“Coco” adalah salah satu film Pixar yang menunjukkan terobosan konseptual, penerapan warna-warna cerah, dan keterbukaan emosional—yang semuanya menjadi ciri khas studio animasi ini. Tak heran jika film-film mereka selalu ditunggu para penggemarnya. “Coco” sendiri telah merajai box office selama dua minggu sejak tanggal rilisnya. Menurut estimasi di hari Minggu (10/12), “Coco” telah meraup 26,1 juta dolar di Amerika dan secara global telah mendapatkan 280 juta dolar, mengalahkan film superhero “Justice League” yang berada di posisi kedua sekaligus menjadi salah satu film yang paling layak ditonton di penghujung tahun ini. (zara/colorsradio)