COLORS RADIO – Apa yang ngebedain radio konvensional dan digital? Semua pasti sepakat kalo yang paling utama ialah ‘jangkauannya’. Seperti kita tahu, meski secara kualitas audio, fidelitas, transimisi dan bandwith sudah lebih dari cukup, sayangnya jangkauan gelombang radio frekuensi masih terbatas. Jadi, ketika era digitalisasi mengekspansi, praktis posisi radio mulai goyang. Karena, radio dengan konsep online/digital mulai bermunculan. Permasalahan jangkauan pun teratasi, pasalnya gelombang radio ini memakai jaringan internet yang bisa diakses kapanpun dan di manapun.

Pembaruan digitalisasi di ranah media informasi ini secara gak sengaja mendorong industri kreatif ikut andil didalamnya. Para pelaku industri yang tengah dipantau oleh Pemerintah itu mencoba memanfaatkan perkembangan digitalisasi, dengan menciptakan sendiri lahan informasi yang sesuai dengan idealis dan konsep mereka. Di Surabaya, radio online marak bermunculan. Sebut saja Radiogasm, Radio Kemarin Sore, dan UR The Radio. Bahkan ada beberapa radio lain yang dulu sempat aktif seperti Radio Yakuda dan Stoned Radio. Jumlah tersebut masih belum ditambah radio kampus dan komunitas lainnya. Lantas bagaimana radio online survive ditengah industri kreatif yang kompetitif ini?

Meski radio online punya jangkauan yang lebih luas dari radio konvensional. Namun terlalu dini jika beranggapan radio digital mampu bersaing sejajar dengan radio terestrial. Banyaknya hambatan seperti perijinan media, tempat, sumber daya, finansial jadi hal serius yang membuat langkah mereka sedikit tersendat. Tidak adanya perijinan media berimbas pada pemasukan, karena pihak ketiga atau klien akan sulit mendapatkan trust untuk menggandeng mereka sebagai media informasi yang relevan. Disamping itu, keterbatasan SDM dan masih mandirinya sumber dana untuk menjalankan radio masih jadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi para pelaku kreatif.

Opank Pranoto, salah satu pengagas Radiogasm mengakui jika industri digital radio ini gampang-gampang susah. Pria yang selama lebih kurang 2 tahun membesarkan Radiogasm itu sudah mengalami banyak siklus, \"Sebenarnya banyak juga yang sudah aware sama radio digital sebagai platfrom media promosi. Cuman, ya memang untuk radio komunitas sementara ini belum concern di bisnis sebesar itu. Jadi sekarang ini sih concern sebagai media promosi dulu dengan lingkup yang lebih kecil, ya untung-untungan juga kalau dibayar, \" ujarnya.

Bagi dia dan rekan-rekannya, mengurus Radiogasm memang menguras effort lebih untuk tetap bertahan. Karena memang segala keperluanharus diambil dari kantong pribadi serta sulitnya menarik klien berbayar. Lanjutnya, nihilnya struktur dalam pengolahan bisnis kreatif ini sekaligus jadi batu sandungan yang harus segera diatasi agar tidak tertinggal. Berdasarkan fakta yang ada, sampai sekarang ini, seberapa sering kah Colors People dengerin radio terestrial, dan seberapa sering juga dengerin radio online? (dea/colorsradio)