COLORS RADIO – Sebagian besar warga Surabaya pasti sudah familiar dengan nama jalan Polisi Istimewa yang menghubungkan beberapa kawasan, seperti Raya Darmo dan Basuki Rachmat. Tapi, kemungkinkan belum semua warga kita paham betul sejarah dibalik nama ‘Polisi Istimewa’ itu sendiri. Dalam buku yang berjudul ‘500 KM’ karya Tari Moekari bersama beberapa penulis lainnya sempat merekam perjuangan para veteran yang disebut Pasukan Polisi Istimewa. Mereka ikut berjuang menumpas penjajah di perang 10 November 1945 silam.   

Dari sekian banyak jumlah pasukan yang berperang, tidak sedikit dari mereka yang gugur di medan perang. Tapi, satu dari sekian banyak itu masih ada yang bisa bertahan hidup dan merasakan kemerdekaan. Ialah Moekari, pejuang veteran yang masih tampak sehat dan penuh semangat. “Saya terharu sama semua orang yang masih peduli dengan pejuang-pejuang zaman dulu. Memang dulu kami bukan apa-apa, kami cuma orang yang berani jual nyawa demi kemerdekaan,” ujar Moekari dalam acara makan siang bersama para pejuang veteran di HARRIS-POP! Hotel Gubeng, Surabaya kemarin (8/11).

Melalui momen tersebut, Moekari bercerita banyak tentang perjuangannya selama 21 hari untuk mengusir penjajah. Beliau yang kini sudah berusia 91 tahun itu merupakan didikan Jepang yang ikut andil dalam beberapa pertempuran, seperti di Jembatan Merah dan Hotel Orange. Beruntung bagi Moekari, karena semua kejadian penting yang dialaminya selama berperang di dokumentasikan oleh anaknya, Tari Moekari melalui buku 500 KM.

Dalam buku 500 KM, Tari menceritakan kembali bagaimana perjuangan para Pasukan Polisi Istimewa yang harus menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan berjalan kaki dari satu kota ke kota lain di Jawa Timur. Naik gunung, turun gunung, masuk hutan, dan keluar hutan, semuanya dilakukan untuk memberantas penjajah. “Dari semua pasukan itu, sekarang cuma tinggal saya yang masih ada. Semuanya sudah nggak ada, termasuk komandan saya juga,” lanjut Moekari.

Makan siang yang dibuka dengan pemotongan tumpeng itu sekaligus membawa aura semangat bagi para generasi penerus bangsa. Hampir semuanya menyimak dengan serius cerita demi cerita yang dilontarkan Moekari. “Kegiatan CSR ini kami lakukan sebagai bentuk kepedulian HARRIS-POP! Hotels & Conventions Gubeng Surabaya kepada para pejuang kemerdekaan yang masih hidup beserta keluarganya,” lanjut Setiawan Nanang, Marketing Communication Manager HARRIS-POP! Hotel Gubeng. Begitu juga dengan General Manager, Stylianos Koureas yang menyebut bahwa Surabaya sebagai Kota Pahlawan adalah hal mutlak, jadi acara seperti ini sangat tepat sekali untuk diadakan terutama jelang Hari Pahlawan seperti saat ini.

Kedatangan Moekari beserta beberapa veteran dan keluarganya juga tidak bisa lepas dari andil Gerakan Peduli Pejuang Republik Indonesia (GPP-RI). Organisasi yang baru diresmikan 28 Oktober kemarin itu berperan penting dalam mewadahi para pejuang yang perlu mendapat perhatian khusus atau uluran tangan. Aiptu Pudji Hardjanto selaku Ketua Umum GPP-RI tampak bersemangat menularkan spiritnya untuk bersama-sama melestarikan sejarah dan menghargai semua yang telah dikorbankan oleh para pejuang. (ron/colorsradio)