Kalo di Surabaya, yang namanya sambel pasti gak boleh absen dari tiap menu makanan. Secara, mayoritas orang-orang di kota ini suka banget sama masakan pedas. Berbagai macam olahan sambel dijamin bakal laris, ketika Colors People mencoba berbisnis di bidang tersebut. Sama persis dengan situasi menjamurnya bisnis startup yang menjual produk-produk serupa. Sambal Kringz ini salah satunya. Yang ngebedain produk sambel milik Riring Isyunani dari produk lain ada di variannya. Selain itu tentu dari cara pembuatannya yang unik.

Riring Isyunani atau lebih akrab dipanggil Riring ini sebenernya bisa dibilang gak sengaja memulai bisnisnya. Berawal dari usaha kedai Bakso Goreng dan Siomay, Riring banting setir ke produk sambal. Kompetisi yang ketat dan turunnya pasar, jadi alasan buat dia memilih ngembangin bisnis tersebut. Terbukti, cuma dalam setahun Riring berhasil nembus pasar lokal. Dulunya Sambal Kringz dikemas dengan kemasan botol sederhana, namun sekarang kemasannya sudah diberi label khusus untuk Sambal Kringz, nama yang diambil dari singkatan kuliner riring.

Dulunya, wanita berhijab ini punya kedai bakso yang harus nyediain sambel tiap hari. “Karena capek dan pegawai kadang nggak masuk, aku akhirnya punya ide buat bikin sambel praktis yang nggak harus ngulek tiap hari,” ujar Riring yang minggu kemarin menjadi narasumber di 6 Till 9 Morning Vibes. Riring memulai usahanya pada akhir Maret 2015. Awalnya diedarkan kepasar-pasar tradisional, bahkan M2M (Mouth to Mouth). Dengan modal awal belanja rumah tangga secukupnya, kini ia mencoba berinovasi dengan ngembangin Sambel Kringz jadi lebih menjual. “Awalnya cuma bikin sekitar 20-50 botol, tapi mulai akhir 2015, konsumennya meningkat, jadinya sekarang bisa bikin sekitar 200 botol sambel,” lanjutnya. Namun karena varian lebih banyak, sekitar 100 botol bisa terjual tiap harinya. Sekarang pendistribusinya pun nggak cuman di pasar-pasar tradisional aja, Ririn sudah berhasil menembus Transmart, pasar modern, toko oleh-oleh, dan tentunya di media online. Pembelinya juga banyak yang datang dari luar pulau, seperti dari Kota Bontang, Banjarmasin, Kupang, hingga ke luar negeri juga.

Jika Colors People selama ini cukup sering menemui kemasan sambal dari produk lokal, maka yang ngebedain Sambal Kringz dengan kemasan lain ada pada variannya. Riring punya satu varian sambal dari Ikan Asap. Gak tanggung-tanggung, ikannya dia ambil dari nelayan di Kenjeran. “Biasanya kan Ikannya di asap dulu, nah aku bikin Tongkolnya nggak di asap, jadi pembeli bisa makan sambel dengan lauknya juga,” imbuh Riring. Selain itu, Sambal Kringz punya Sambel Jengkol yang nggak banyak orang suka, tapi Riring mencampurkan Jengkol dengan bumbu-bumbu khas yang diraciknya sendiri.

Di sela-sela siarannya bersama 6 Till 9 Morning Vibes kemarin, Riring turut berbagi kiat-kita khusus untuk menjual produk buatannya ini. Wanita yang juga pernah menerjuni dunia siaran ini membeberkan beberapa kunci sukses bisnisnya. “Pertama, perbanyak jaringan pemasaran dan distribusi dengan menciptakan reseller. Kedua, jangan pelit untuk bagi-bagi tester supaya orang bisa mencoba dan merasakan kualitas produk, sehingga terjadi proses beriklan secara M2M. Terakhir, tidak lupa juga, selalu memikirkan inovasi baru, misal soal kemasan, penambahan rasa, harga jual, dan lain-lain,” beber Riring yang pagi itu memakai setelan biru-pink. Nah, gimana Colors People, gak pengen nyoba berbisnis juga? Dimulai dari sekarang, gak ada salahnya kok. Jadi buat yang pengen tau lebih banyak tentang Sambal Kringz bisa follow Instagram-nya di @sambalkringzdan. (fal/colorsradio)