COLORS. Tahukah Colors People bahwa radio memiliki peranan besar dalam kemerdekaan Repubik Indonesia (RI), khususnya di Kota Surabaya. Sebelum jauh membahas peranan radio dalam kemerdekaan, kita akan lebih dulu membahas sedikit tentang sejarah radio.

Adalah Guglielmo Marconi, yang untuk pertama kali berhasil mengirim sinyal komunikasi radio dengan gelombang elektromagnet sejauh 1,5 Km di tahun 1895. Sebelumnya, berbagai percobaan yang menjadi cikal bakal radio, hanya dianggap sebagai penemuan gelombang induksi semata. Tahun 1901, sinyal dari perangkat radio Marconi bahkan mampu melintasi Samudera Atlantik dari Inggris ke Newfoundland Kanada, hingga akhirnya dunia inovasi radio mencatat nama Guglielmo Marconi, sebagai penemu radio.

Pada tahun 1912, kemampuan pengiriman dan penerimaan sinyal ini ditingkatkan lagi oleh Edwin Howard Armstrong yang menemukan penguat gelombang radio atau radio amplifier. Alat ini bekerja menangkap sinyal elektromagnetik dari transmisi radio dan memberikan sinyal balik dari tabung. Dengan begitu kekuatan sinyal meningkat sebanyak 20 ribu kali perdetik. Suara yang ditangkap juga jauh lebih kuat. Penemuan ini kemudian menjadi sangat penting dalam sistem komunikasi radio karena jauh lebih efisien.

Sementara itu, berbagai penelitian terus dilakukan untuk lebih menyempurnakan suara radio tersebut. Di tahun 1933, seorang penemu lain yaitu Amstrong mulai memperkenalkan sistem radio FM (frequency modulation), yang memberi penerimaan jernih meskipun ada badai dan menawarkan ketepatan suara tinggi yang sebelumnya belum ada. Sistem tersebut juga menyediakan sebuah gelombang tunggal yang membawa dua program radio dengan sekali angkut. Pengembangan ini kemudian disebut dengan multiplexing.

Di Indonesia khususnya Kota Surabaya, pada era kemerdekaan RI, radio memiliki peranan penting dalam perjuangan mempertahankan proklamasi. Setelah kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, radio menjadi satu-satunya sumber informasi atas setiap kejadian di dunia maupun di Indonesia.

Sutomo atau yang saat ini lebih dikenal sebagai Bung Tomo, pria kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920, adalah orang yang mewacanakan kelahiran radio pertama untuk mengumandangkan pekik kemerdekaan. Sesaat setelah Indonesia merdeka, dia mendirikan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dengan cabang yang tersebar di seluruh Tanah Air.

Sebagai ketua BPRI, pria yang juga merupakan wartawan ANTARA ini selalu mengumandangkan pidato-pidato tentang perjuangan melalui siaran radio yang diberi nama Radio Repoeblik Indonesia (RRI). Melalui RRI, mereka merelay siarannya dari Sabang hingga Merauke. Sayangnya, perjuangan tersebut tidak lantas mendapat dukungan begitu saja. Saat mendatangi Jakarta, Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin ternyata tidak memberikan izin atas usulnya mendirikan stasiun radio khusus.

Saat kedatangan pasukan sekutu bersama tentara Belanda di Jakarta pada 30 September 1945, Bung Tomo yang belum kembali ke Surabaya mendengar peristiwa perobekan bendera belanda di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit). Bung Tomo pun langsung kembali ke Surabaya dan nekat mendirikan ‘Radio Pemberontakan’ yang pemancarnya masih meminjam milik RRI Surabaya.

Melalui radio pemberontakan yang mulai mengudara 16 Oktober 1945 inilah, Bung Tomo menyiarkan pesan-pesan perjuangan. Ironisnya cara Bung Tomo ternyata tidak begitu disukai Jakarta karena dianggap terlalu 'menghasut' rakyat untuk berperang dan melupakan jalan diplomasi. Meski begitu, pemerintah tetap diam dan membiarkannya terus mengudara.

Tepat 25 Oktober 1945, pasukan sekutu yang didominasi serdadu Inggris tiba di Surabaya di bawah pimpinan Brigjen AWS Mallaby. Sebelum mereka tiba, Bung Tomo sempat melakukan orasi di radio yang petikannya seperti berikut ini ; "Kita ekstremis dan rakyat sekarang tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan (yang mereka lakukan) selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui! Kita akan menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita! Kalau kita tidak diberi kemerdekaan sepenuhnya, kita akan menghancurkan gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit yang kita miliki."

"Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstremis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Kali ini, pidatonya mendapat tanggapan dari RRI Surabaya. Stasiun radio milik pemerintah ini merelay ucapannya hingga ke seluruh Indonesia.

Nah Colors People, ternyata radio begitu penting perannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Makanya dukung terus industri radio kita ya! Hari ini juga, tepat 15 tahun lalu Colors Radio hadir di Surabaya. Happy Anniversary Colors Radio! Semoga selalu memberikan manfaat bagi Colors People!! @veceerpe / bbs